Minggu, 16 Oktober 2011

sa to the kit , ha to the ki


Minggu ini bnr2 salah satu minggu terberat di kantor..
Ini semua gara2 remunerasi...

Tanggung jawab saya sebagai pengelola “absensi” yang berhubungan langsung dengan pendapatan remunerasi bnr2 membutuhkan mental baja..
Ya mental baja!

saya harus kuat menghadapi orang2 yang tidak puas atau bahkan merasa dirugikan karena perhitungan saya yang berasal dari input data absensi..
Tapi insya Allah saya fair kok!
Ya insya Allah, karena saya  yakin pasti ada kesalahan2 kecil dalam input data absensinya.

Saya  terima kok kalau memang kesalahan ada di saya
Selama mereka yang komplain masih bisa bicara baik2 sama saya, saya juga insya Allah bakal berbuat yang sama.

Anda sopan saya segan lah pokonya

Apalagi kalau pejabat yang komplain, sebisa mungkin saya harus sopan, walaupun kadang2 pembelaan mereka terdengar agak “ngeyel”, mana berani saya ikut2an berkeras kepala, toh saya kan hanya pegawai bergolongan rendah, jauh lah dibanding mereka yang sudah mapan.

Akan tetapi ternyata saya sampai juga di “koma”(masih belum sampai titik ) dimana saya terasa terpuruk dengan beban pekerjaan saya. Semua pasti paham lah, bagaimana “uang” menjadi hal yang sangat “sensitif”. Tidak ada satupun orang yang mau dirugikan seperak pun! Even Rp.5 guys!

Ada salah satu bagian di kantor yang merasa SANGAT dirugikan gara2 perhitungan SAYA!
Jujur awalnya saya merasa kesel banget karenanya, saya marah2 dan kesel sendiri jadinya, karena mereka bnr2 “kurang masuk akal”. Pemahaman mereka dalam hal “pembayaran remunerasi” bnr2 bodoh! Semua juga tahu betapa kerasnya saya kalau saya merasa benar dan tidak salah, dan itulah yang saya lakukan. Akan tetapi apabila yang bersangkutan bisa bicara baik2 dengan saya, seperti yang saya blg tadi, saya juga bisa sopan.

Bahkan salah satu teman saya, yang juga teman satu kosan, dengan sabarnya membantu menenangkan saya,pelan2 dia cocokkan datanya, saya juga cek terus, cek terus dan terus, dan insya Allah cocok kok, udah cukup adil buat saya. Tapi nyatanya berkata lain, mereka tetep “ngeyel” belom “klop”. Salah satu dari mereka bilang mau datang sendiri untuk melihat datanya, tapi apa?! Tidak ada satupun org yang datang.
Mereka hanya bisa membicarakan hal yang buruk tentang saya di “belakang “ saya.
Bahkan atasan mereka melakukan hal yang sama, menyakitkan hati saya “dibelakang saya”.
Mental saya hancur, air mata saya akhirnya keluar juga karena kata2nya terlalu menyakitkan buat saya.
Bagaimana bisa seorang pejabat melakukan hal seperti itu? Saya juga bukannya tidak mau disalahkan, akan tetapi caranya yang sangat tidak bijaksana.
Kepemimpinan anda nanti bakal dipertanyakan di akhirat sir!
Saya sudah terlalu sakit.

Saya tidak pernah ngadu2 keatasan saya kalau saya sering mendapatkan perlakuan yang tidak nyaman karena beban pekerjaan saya ini.

Tapi apa????
Meraka terlalu berpikiran buruk tentang saya.
Hanya Allah yang tahu seperti apa saya sebenernya.
Biasanya kantor menjadi pelarian saya ketika pikiran saya jenuh menghadapi keluarga, tapi sekarang saya tidak punya tempat untuk “berlari” lagi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar